Tampilkan postingan dengan label Artikel Ilmiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Ilmiah. Tampilkan semua postingan
Selasa, 07 Oktober 2014
Posted by Unknown
No comments | 16.53
Mengapa begitu?
Jawabannya
ada pada hormon seks perempuan, estrogen, yang ternyata melindungi otak mereka
terhadap stres, menurut temuan para peneliti AS. “Ini bahkan bisa menjadi
alasan lain mengapa wanita hidup lebih lama daripada pria,” kata kepala
penelitian Profesor Zhen Yan dari Universitas Buffalo.
Tikus yang Stres
Dalam
percobaan mereka, tim peneliti menyelidiki mekanisme molekul yang terkait
dengan stres terhadap fungsi otak. Untuk
itu mereka secara fisik mengurung tikus-tikus muda jantan dan betina dalam
kandang-kandang silinder kecil dua jam sehari selama satu minggu. Tindakan ini
dimaksudkan untuk membuat stres tikus-tikus tersebut.
Untuk
menguji memori jangka pendek hewan itu, para peneliti menempatkan ke dalam
kandang sepasang benda yang identik, diikuti oleh pasangan benda kedua satu jam
kemudian. Tikus-tikus dengan penasaran menyelidiki benda yang tidak diketahui
itu secara seksama. Tiga jam kemudian, mereka menyajikan tikus-tikus itu dengan
satu benda dari setiap pasangan. Tikus yang menghabiskan lebih banyak waktu
memeriksa benda dari pasangan pertama menunjukkan bahwa hewan itu mengingatnya
dari empat jam sebelumnya. Tikus yang lebih menyukai benda dari pasangan kedua
yang lebih baru menunjukkan dia memiliki gangguan memori jangka pendek.
Melemahnya Memori
Para
peneliti menguji memori hewan-hewan itu sebelum dan setelah paparan stres. Pada
tikus jantan, baik sebelum maupun setelah seminggu paparan stres, kinerja
memorinya sangat berbeda dibandingkan pada tikus betina. Kinerja memori tikus
jantan memburuk di bawah stres, terutama memori jangka pendeknya.
Tikus-tikus
jantan memeriksa benda yang telah mereka kenali seolah-olah belum pernah
melihat sebelumnya. Yan menyebut bahwa stres pada tikus jantan menurunkan kadar
neurotransmitter reseptor glutamat di bagian otak yang disebut korteks
prefrontal, wilayah yang mengontrol perhatian, emosi, pengambilan keputusan dan
kinerja memori.
Kelompok
Yan menemukan bahwa tikus betina muda juga stres oleh seminggu pengekangan
fisik, namun hal itu tidak menyebabkan penurunan kemampuan mereka untuk
mengingat dan mengenali benda yang telah mereka lihat beberapa jam sebelumnya.
Percobaan ini menemukan bahwa meskipun stres, tikus betina memiliki kadar
reseptor glutamat yang sama di daerah korteks prefrontal seperti sebelum penelitian.
Data ini mendukung hipotesis bahwa reseptor glutamat berperan penting dalam
respon terhadap stres.
Estrogen sebagai pelindung
Rupanya,
estrogen mencegah efek negatif stres pada reseptor tersebut. Tikus jantan yang
diberi estrogen sintetis (estradiol) oleh peneliti bereaksi terhadap stres
dengan cara yang sama dengan tikus betina. Sebaliknya, ketika peneliti
memblokir efek estrogen pada tikus betina, kinerja memorinya melemah seperti
tikus jantan.
Yan
mengakui bahwa hasil kelompoknya memang baru berdasarkan pada studi tikus.
Namun, temuan ini dapat relevan pada manusia karena banyak fungsi seluler yang
sama di antara kedua spesies. “Kami percaya bahwa mekanisme ini juga terjadi
pada manusia,” katanya.
Hal
ini terutama berlaku pada efek estrogen sebagai peredam stres di otak, yang
menguntungkan wanita. Jika perlindungan ini terganggu – misalnya, dengan
penurunan produksinya selama menopause atau setelah melahirkan karena gejolak
hormon – maka akan meningkatkan risiko depresi Penambahan estrogen dapat
membantu untuk menstabilkan kinerja saraf.
Namun,
estrogen dapat memiliki efek yang tidak diinginkan. Pada pria, kelebihan
estrogen bisa menyebabkan feminisasi. Mungkin bermanfaat untuk menemukan obat
yang memiliki efek serupa dengan estrogen di dalam otak tanpa menimbulkan efek
sampingnya. “Ini bisa menjadi terapi yang sangat efektif untuk masalah terkait
stres pada pria,” kata para peneliti.
———————–
Sumber:
Zhen Yan: Estrogen protects against the detrimental effects of repeated stress
on glutamatergic transmission and cognition. Molecular Psychiatry, Molecular
Psychiatry, (9 July 2013)
Senin, 14 Juli 2014
Posted by Unknown
No comments | 17.08
Pria penderita asam urat (gout) seringkali memiliki masalah disfungsi ereksi. Sebuah tim yang dipimpin oleh spesialis rematik Dr Naomi Schlesinger dari Rutgers-Robert Wood Johnson Medical School di New Brunswick, New Jersey, menemukan bahwa satu dari tiga pasien gout menderita disfungsi ereksi.
Dr Schlesinger dan rekan-rekannya meneliti 201 pria berusia 18 hingga 89 tahun, yang menjadi pasien pada sebuah klinik rematologi antara Agustus 2010 s.d. Mei 2013. Dari sejumlah pasien tersebut, 83 orang memiliki gout dan 118 tidak.
Para pria dalam studi ini menyampaikan riwayat kesehatan mereka, menjalani pemeriksaan fisik dan mengambil beberapa tes laboratorium. Mereka juga diminta untuk mengisi kuesioner standar tentang kesehatan seksual. Kuesioner ini mengevaluasi kemampuan untuk ereksi dan penetrasi selama hubungan seksual, kekuatan ereksi dan kepuasan seksual dikelompokkan dalam lima tingkatan: tidak ada disfungsi seksual (26-30 poin), gangguan ringan (22-25), gangguan ringan-sedang (17-21), disfungsi sedang (11-16) dan disfungsi ereksi berat (1-10).
Pada kelompok pria dengan gout, 76 persen mengalami disfungsi ereksi, dibandingkan dengan 52 persen pada pria tanpa gout. Pria dengan gout lebih mungkin untuk mengalami disfungsi ereksi berat (43 persen) dibandingkan dengan pria tanpa gout yang juga memiliki disfungsi ereksi, yaitu hanya 30 persen. Lebih banyak pria dengan gout tophaceous (gout kronis di mana kristal asam urat telah mengendap sebagai gumpalan di sendi-sendi) memiliki disfungsi ereksi dibandingkan pria dengan gout yang belum parah, para peneliti menemukan.
“Kami benar-benar terkejut melihat betapa banyak pasien gout yang menderita disfungsi ereksi,” kata dr Schlesinger.
Seringkali, disfungsi ereksi tidak diketahui, tambah dr Schlesinger. Hal ini mungkin karena para pria biasanya tidak mau berbicara tentang masalah seksual. Para peneliti menyarankan agar dokter meminta pasien gout mereka untuk menjalani skrining kesehatan seksual.
Selain itu, para peneliti mencatat bahwa gout berhubungan dengan penyakit jantung dan disfungsi arteri koroner. Penyakit arteri koroner adalah jenis penyakit jantung paling umum yang melibatkan penyempitan pembuluh yang membawa darah dan oksigen ke jantung. Penyakit arteri koroner seringkali tidak memberikan gejala, sehingga orang mungkin tidak tahu bahwa mereka memiliki kondisi tersebut. Pasien gout juga disarankan untuk menjalani pemeriksaan untuk mengevaluasi ada/tidaknya penyakit arteri koroner.
___________________________________________
Sumber: Schlesinger N. et al. “Erectile dysfunction is common among gout patients”. European League Against Rheumatism (EULAR 2014).
Minggu, 06 Juli 2014
Posted by Unknown
No comments | 10.30
Berpuasa secara
teratur meningkatkan metabolisme dan mengurangi risiko penyakit. Hal ini juga
berlaku bagi mereka yang telah mengembangkan pradiabetes.
Pradiabetes
adalah kondisi metabolik di mana kadar glukosa darah sudah naik tetapi belum
mencapai level yang khas untuk diabetes. Penyandang pradiabetes belum terkena
diabetes, perubahan gaya hidup seperti penurunan berat badan dan olahraga dapat
mencegah perkembangannya menjadi diabetes.
Kini telah
diketahui ada strategi yang lebih efektif untuk mencegah pradiabetes menjadi
diabetes: dengan berpuasa. “Puasa memiliki potensi untuk mencegah diabetes di
masa depan,” kata pemimpin studi Benjamin Horne. Dokter dari Intermountain
Medical Center di Murray tersebut selama bertahun-tahun telah mempelajari efek
berpuasa teratur pada kesehatan. Dalam studi sebelumnya, dia menemukan bahwa
orang-orang yang selama bertahun-tahun secara teratur berpuasa – biasanya
karena alasan agama – memiliki risiko rendah untuk terjangkit diabetes atau
penyakit jantung koroner.
“Kita telah
mengetahui untuk beberapa waktu bahwa puasa itu sehat – tetapi mekanisme
biologis di balik itu baru kita temukan sekarang” dia menjelaskan.
Orang yang Berisiko Diabetes
Untuk penelitian
awal, para relawan merekrut dua belas orang laki-laki dan perempuan yang
memiliki berat badan normal yang berisiko tinggi terkena diabetes tipe 2.
Mereka semua sudah memiliki pradiabetes, yang merupakan prekursor diabetes. Hal
ini berarti gula darah puasa mereka di atas nilai 100 mg/dL. Selain itu,
masing-masing peserta memiliki salah satu faktor risiko tambahan berikut:
·
Lingkar pinggang yang relatif besar
·
Kadar trigliserida tinggi
·
Rendahnya kadar kolesterol hdl yang baik
Selama periode
enam minggu, para peserta berpuasa seminggu sekali selama 24 jam. Selama
berpuasa mereka hanya minum air.
Penurunan kolesterol
Bahkan setelah
waktu yang relatif singkat itu, efeknya nyata: kadar kolesterol secara
keseluruhan turun sampai dua belas persen.
Setelah 10-12
jam berpuasa, tubuh menggunakan sumber energi lain sebagai glukosa darah, tulis
para peneliti. “Kami percaya bahwa yang digunakan adalah kolesterol,” kata
Horne – dan terutama kolesterol jahat LDL di dalam sel-sel lemak. Hal ini pada
akhirnya dapat mengurangi resistensi insulin dari sel-sel, mekanisme penting
untuk pengembangan diabetes.
Resistensi
insulin adalah kurangnya sensitivitas sel-sel tubuh terhadap hormon insulin,
yang diperlukan untuk memasukkan gula ke dalam sel-sel. Untuk mengatasi hal
ini, pankreas harus menghasilkan insulin dalam jumlah lebih banyak. Akhirnya,
ketika pankreas mencapai batas maksimal kemampuannya, tingkat gula darah naik.
Pradiabetes kemudian berubah menjadi diabetes tipe 2.
Sel dalam modus perlindungan diri
Peningkatan
katabolisme kolesterol LDL selama berpuasa bisa membalikkan proses ini, kata
para peneliti. Selain itu, sel-sel tubuh berada dalam mode perlindungan diri di
saat kita berpuasa sehingga mengoptimalkan fungsi mereka – dan lebih sensitif
terhadap insulin. Para peserta juga kehilangan berat badan, yang berkontribusi
pada peningkatan kontrol metabolik.
Dalam penelitian
selanjutnya, mereka ingin mengetahui berapa lama dan seberapa sering orang
harus berpuasa untuk mendapatkan manfaat dari berpuasa.
Nah, terbukti
kan bahwa berpuasa itu menyehatkan! Mari kita sambut bulan Ramadhan sebagai
bulan yang akan menyehatkan kita lahir dan batin.
———————-
Source: “Fasting
Reduces cholesterol levels in prediabetic People Over Extended Period of Time”,
New Research Finds, Press Release 2014, American Diabetes Association
Scientific Sessions
Selasa, 15 April 2014
Posted by Unknown
No comments | 23.50
Kegemukan
berisiko kesehatan, itu jelas. Bahkan belakangan ini sejumlah kalangan medis
menggolongkan obesitas sebagai sebuah penyakit tersendiri. Namun, terlalu kurus
ternyata lebih berbahaya dibandingkan terlalu gemuk. Risiko kematian dini untuk
orang kurus lebih tinggi daripada orang gemuk, menurut hasil sebuah studi
survei besar. Dibandingkan dengan orang-orang berberat badan normal, orang yang
terlalu kurus memiliki risiko kematian hampir dua kali lipat orang berberat
badan normal.
Studi
yang dipimpin oleh dr Joel Ray dari Rumah Sakit St Michael, Toronto mengalisis
51 penelitian terhadap orang-orang yang diikuti selama lima tahun atau lebih
dan berfokus pada hubungan antara BMI (indeks massa tubuh) dan kematian yang
terkait dengan sebab apapun. Para peserta yang memiliki catatan kekurangan
berat badan akibat kanker, penyakit paru-paru kronis atau gagal jantung
dikeluarkan dari analisis agar tidak mendistorsi hasilnya.
Hasilnya,
orang-orang kurus yang memiliki BMI kurang dari 18,5 berisiko 1,8 kali lebih
tinggi dalam setiap periode penelitian untuk meninggal dibandingkan mereka yang
berberat badan normal (BMI 18,5-24,9). Sebaliknya, mereka yang kegemukan (BMI
30-34,9) hanya memiliki peningkatan risiko kematian sebesar 1,2 kali. Bahkan mereka
yang sangat gemuk dengan BMI di atas 35 pun masih memiliki peningkatan risiko
kematian lebih sedikit yaitu risiko 1,3 kali.
Ray
menyatakan bahwa perhatian masyarakat saat ini sangat berfokus pada kelebihan
berat badan. Meskipun jelas bahwa kelebihan berat badan adalah masalah nyata,
kita juga perlu mewaspadai masalah kekurangan berat badan. Orang berberat badan
normal yang mungkin terpengaruh oleh iklan atau meniru para model dapat
menurunkan berat badan terlalu banyak sehingga membahayakan kesehatan mereka.
Kekurangan berat badan seringkali disertai dengan gizi buruk, yang dapat
melemahkan tubuh. Jika orang yang kurus itu kemudian sakit parah maka dia hanya
memiliki cadangan lemak yang sedikit.
LINGKAR
PINGGANG ADALAH TOLOK UKUR YANG LEBIH BAIK
Menggunakan
alat ukur yang tepat untuk menilai berat badan yang sehat sangat penting, kata
Ray. “BMI tidak hanya mencakup lemak tubuh tetapi juga massa otot,” katanya.
Rasio ini tidak memberikan informasi tentang distribusi lemak tubuh.
Keseimbangan lemak dan otot berperan penting bagi kesehatan. Oleh karena itu,
menilai risiko kesehatan dengan lingkar perut lebih cocok daripada BMI.
Perempuan harus bertujuan untuk memiliki lingkar perut kurang dari 80 cm dan
laki-laki kurang dari 90 sentimeter.
______________________________
Referensi
:
Sissi
Cao, Rahim Moineddin, Marcelo L Urquia, Fahad Razak, Joel G Ray. J-shapedness:
an often missed, often miscalculated relation: the example of weight and
mortality. Journal of Epidemiology and Community Health, March 2014 DOI:
10.1136/jech-2013-203439
Senin, 14 April 2014
Posted by Unknown
1 comment | 11.06
Brokoli
dan sayuran lainnya dalam keluarga Brassicaceae seperti seperti kol, kembang
kol, kubis, bok choy kaya akan berbagai mineral dan vitamin penting. Selain
itu, mereka juga telah lama dikenal sebagai sayuran antikanker. Sebuah studi
tinjauan yang diterbitkan dalam Journal of American Dietetic Association edisi
Oktober 1996 menunjukkan bahwa 70% atau lebih penelitian menemukan hubungan
antara sayur-sayuran tersebut dengan perlindungan terhadap kanker. Berbagai
unsur dalam sayur-sayuran tersebut berkaitan dengan risiko kanker yang lebih
rendah, beberapa di antaranya dapat menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker di
payudara, dinding rahim (endometrium), paru-paru, usus, hati, prostat dan leher
rahim.
Penelitian
laboratorium menunjukkan bahwa salah satu fitokimia yang ditemukan dalam
sayur-sayuran itu adalah sulforaphane, yang dapat merangsang enzim yang
menetralisir karsinogen sebelum mereka merusak sel-sel.
Penelitian
baru-baru ini di Inggris menunjukkan bahwa sulfarophane ternyata juga dapat
membantu mengatasi osteoartritis dengan memblokir enzim tertentu yang terkait
dengan kerusakan sel-sel tulang rawan dan degenerasi sendi. Sebuah studi yang dipimpin oleh Ian Clark,
profesor biologi muskuloskeletal di University of East Anglia di Norwich,
menunjukkan bahwa tikus- tikus yang diberi diet kaya sulforaphane kurang
mengalami kerusakan tulang rawan dan osteoartritis dibandingkan dengan
tikus-tikus dengan diet tidak mengandung senyawa itu. Hasil penelitian
diterbitkan dalam jurnal Arthritis & Rheumatism edisi 28 Aug 2013.
Penelitian
selanjutnya akan dilakukan pada manusia dengan percobaan terhadap 40 pasien
osteoartritis yang akan menjalani operasi penggantian sendi. Selama dua minggu
sebelum operasi, setengah dari mereka akan makan “brokoli super” yang
dikembangkan secara khusus sehingga berkadar sulforaphane tinggi. Setelah
operasi, tim akan membandingkan penderita yang mengonsumsi “brokoli super”
dengan mereka yang tidak untuk melihat apakah senyawa itu dapat terdeteksi pada
sendi yang diganti dan bagaimana ia mengubah metabolisme sendi. Mereka berharap
hasilnya akan dapat menarik dana untuk percobaan yang lebih besar mengenai efek
konsumsi brokoli pada osteoartritis dan fungsi sendi.
Nah,
bila Anda ingin terhindar dari kanker dan osteoartritis, tampaknya kini perlu
segera mulai menambah porsi brokoli, kubis, kol dan sejenisnya dalam diet Anda.
Sebaiknya sayur-sayuran tersebut dikonsumsi mentah atau dikukus ringan untuk
mempertahankan fitokimia yang terdapat di dalamnya.
________________________________
Referensi :
Journal of American Dietetic Association edisi Oktober 1996
Jumat, 11 April 2014
Posted by Unknown
No comments | 06.13
Dalam
studi terhadap hampir 120.000 orang selama 30 tahun tersebut, semakin sering
orang mengonsumsi kacang-kacangan, semakin kecil kemungkinan mereka untuk
meninggal selama studi. Mengonsumsi kacang kurang dari sekali seminggu
menurunkan 7% risiko kematian, seminggu sekali menurunkan 11%, 2-4 kali
seminggu menurunkan 13%, 5-6 kali seminggu menurunkan 15%, dan 7 kali atau
lebih dalam seminggu menurunkan 20%.
Pada
mereka yang mengonsumsi kacang-kacangan setiap hari, peneliti utama Dr Charles
Fuchs mengatakan bahwa manfaat yang paling jelas adalah pengurangan 29%
kematian akibat penyakit jantung dan 11 % akibat kanker. Analisis juga
menunjukkan bahwa mereka yang memakan kacang secara teratur cenderung lebih
ramping dibandingkan mereka yang tidak makan kacang-kacangan, sehingga
mematahkan pendapat bahwa konsumsi kacang dapat membuat gemuk.
Peneliti
mengatakan bahwa pemakan kacang lebih mungkin untuk memiliki gaya hidup yang
sehat, tetapi kacang itu sendiri juga berkontribusi terhadap umur yang lebih
panjang. Makan kacang dikaitkan dengan gaya hidup sehat, termasuk menjadi
kurang mungkin untuk merokok atau kelebihan berat badan dan lebih mungkin untuk
berolahraga. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan hubungan antara makan
kacang dan penurunan risiko banyak penyakit, termasuk penyakit jantung,
diabetes tipe 2, batu empedu, kanker usus dan divertikulitis. Konsumsi
kacang-kacangan dikaitkan dengan penurunan kolesterol, penurunan peradangan,
stres oksidatif, lemak tubuh dan resistensi insulin yang menurunkan risiko
penyakit-penyakit tersebut.
Tim
menemukan bahwa penurunan risiko kematian tidak berbeda untuk kacang yang
tumbuh di tanah maupun kacang yang tumbuh pohon seperti kacang mete, almond,
hazelnut, macadamia, pecan, kacang pinus, pistachio dan kenari.
Penelitian
ini tidak dirancang untuk memeriksa sebab dan akibat sehingga tidak dapat
menyimpulkan secara spesifik mengapa konsumsi kacang-kacangan dapat
memperpanjang umur. Namun, mereka mengatakan bahwa hasilnya sangat konsisten
dengan sejumlah besar data uji observasi dan klinis yang mendukung manfaat
kesehatan dari konsumsi kacang terhadap banyak penyakit kronis.
______________________________
Referensi
:
Hasil
penelitian dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine edisi edisi 21
November.
Posted by Unknown
No comments | 05.57
Banyak wanita menderita osteoporosis selama dan Penghasilan kena menopause. Kondisi nihil meningkatkan resiko terjadinya patah tulang. Studi barat terbaru mengungkapkan bahwa ternyata ada pengaruh berat badan dan Indeks Massa Tubuh (BMI) terhadap resiko patah tulang (fraktur) osteoporosis.
Tim Peneliti internasional hanya membandingkan data yang lebih Bahasa Dari 50.000 Wanita di Atas USIA 50 Tahun Bahasa Dari Sepuluh Negara. Mereka berpartisipasi Dalam, penyusunan Tugas Yang dinamakan "global Longitudinal Study of Osteoporosis pada Wanita" (GLOW). Selama Tiga Tahun, terkait masih berlangsung Tahun mereka mengisi kuesioner Dan memberikan INFORMASI tentang Patah Tulang SAAT ITU atau sebelumnya. Tujuh persen khususnya bahasa Dari PESERTA PENELITIAN pernah mengalami Patah Tulang. Para ilmuwan membandingkan data yang dikumpulkan Yang Artikel Baru INFORMASI Yang sebelumnya telah dikumpulkan mengenai BMI, TUBUH UKURAN Dan berat untuk badan para Wanita.
Hasil mengejutkan adalah semakin rendah BMI Wanita, semakin Besar RISIKO Patah Tulang Belakang PADA, badan anggota Dan pergelangan Tangan. Hal inisial KARENA Perempuan Yang kurus Kehilangan peredam Yang mengurangi dampak Benturan PADA Tulang.
Namun, para Wanita Yang GEMUK pun regular tidak Boleh menganggap Diri mereka kebal terhadap RISIKO Patah Tulang. Meskipun Wanita Artikel Baru BMI di Atas 30 lebih sedikit menderita fraktur osteoporosis dibandingkan mereka Yang memiliki BMI 18,5 - 30, namun RISIKO mereka untuk Patah Tulang di pergelangan Dan tungkai kesemek lebih Besar. Selain ITU, Perempuan GEMUK lebih lama tinggal Dalam, perawatan di Rumah Sakit Dan lebih BANYAK menderita penyakit Yang terkait di masa mendatang Artikel Baru kelebihan berat untuk badan seperti diabetes Dan penyakit kardiovaskular.
Oleh KARENA ITU, untuk mencegah Patah Tulang, Penting untuk menjaga BMI Dalam, Batas-Batas normal.
__________________________________________
Referensi:
Sumber: Compston JE, et al, Hubungan berat badan, tinggi badan, dan indeks massa tubuh di lokasi yang berbeda dengan risiko patah tulang pada wanita postmenopause: Studi global longitudinal osteoporosis pada wanita (GLOW)
Rabu, 09 April 2014
Posted by Unknown
No comments | 10.11
Bukti-bukti anekdotal dan ilmiah menunjukkan bahwa penyakit memiliki bau tertentu. Penderita diabetes, misalnya, kadang-kadang memiliki napas yang berbau seperti apel busuk atau aseton.
Mats Olsson, dkk dari Karolinska Institutet di Swedia bahkan membuktikan bahwa manusia dapat mencium bau penyakit pada seseorang yang sistem kekebalannya sangat aktif hanya dalam beberapa jam setelah terpapar racun. Untuk membuktikannya, Olsson dan timnya merekrut delapan orang sehat untuk disuntik dengan lipopolisakarida (LPS) yaitu racun yang dikenal meningkatkan respon imun atau larutan garam (sebagai pembanding). Para relawan mengenakan t-shirt ketat untuk menyerap keringat selama 4 jam berikutnya. Para relawan yang disuntik dengan LPS menghasilkan respon imun yang nyata, sebagaimana dibuktikan oleh peningkatan suhu tubuh dan kadar sitokin (molekul sistem kekebalan).
Sebuah kelompok terpisah yang terdiri dari 40 peserta diminta untuk mencium sampel keringat. Secara keseluruhan, mereka menilai t-shirt dari kelompok LPS memiliki bau yang lebih tajam dan tidak menyenangkan dibandingkan t-shirt kelompok larutan garam. Mereka juga menilai t-shirt dari kelompok LPS memiliki bau tidak sehat.
Hubungan antara aktivasi kekebalan dan bau badan setidaknya sebagian ditentukan oleh kadar sitokin dalam darah mereka yang terpajan LPS. Artinya, semakin besar respon kekebalan peserta, semakin tidak sedap bau keringat mereka. Menariknya, dalam uji kimia para peneliti tidak menemukan perbedaan dalam jumlah keseluruhan senyawa berbau antara kelompok LPS dan kelompok pembanding. Hal ini menunjukkan bahwa pasti perbedaannya terdapat dalam komposisi senyawa berbau tersebut.
Meskipun apa persisnya senyawa kimia itu belum diketahui, kemampuan mendeteksi bau ini merupakan suatu temuan berharga karena menunjukkan adaptasi penting yang memungkinkan kita untuk menghindari penyakit berbahaya, simpul para peneliti. Hal ini memberi kita pemahaman yang lebih baik mengenai isyarat-isyarat sosial dari penyakit, dan mungkin juga membuka jalan bagi cara-cara baru untuk mengatasi penyakit menular.
__________________________
Referensi :
M. J. Olsson, J. N. Lundstrom, B. A. Kimball, A. R. Gordon, B. Karshikoff, N. Hosseini, K. Sorjonen, C. Olgart Hoglund, C. Solares, A. Soop, J. Axelsson, M. Lekander. “The Scent of Disease: Human Body Odor Contains an Early Chemosensory Cue of Sickness”. Psychological Science, 2014; DOI: 10.1177/0956797613515681
Selasa, 08 April 2014
Posted by Unknown
No comments | 06.58
Anda yang memiliki gangguan toleransi glukosa
(impaired glucose tolerance/IGT) dapat mengurangi risiko serangan jantung atau
stroke dengan hanya menambah berjalan 2.000 langkah per hari, demikian
kesimpulan sebuah studi terkini.
Penelitian tersebut melibatkan data lebih
dari 9.300 orang dewasa dengan gangguan toleransi glukosa. Sebagaimana
diketahui, IGT adalah kondisi di mana tubuh tidak lagi cukup cepat untuk
menurunkan kadar gula darah yang tinggi di bawah kontrol, yang merupakan
prekursor diabetes dan penyakit kardiovaskular
“Beberapa studi telah menunjukkan manfaat
beraktivitas fisik pada penderita gangguan toleransi glukosa,” kata pemimpin
studi Thomas Yates dari University of Leicester. Namun, ini adalah studi pertama
yang menganalisis seberapa banyak gerakan yang diperlukan untuk mengurangi
risiko penyakit kardiovaskular.
Semua peserta penelitian menerima “program
modifikasi gaya hidup” yang mendorong mereka untuk menurunkan berat badan,
mengonsumsi lebih sedikit lemak dan berolahraga secara teratur. Masing-masing
mereka juga menerima sebuah pedometer, yang mencatat seberapa banyak langkah
mereka berjalan setiap hari, baik pada awal percobaan maupun 12 bulan kemudian.
Dampak 2000 Langkah :
Rata-rata, para peserta diikuti selama enam
tahun. Selama periode ini, ada 531 peserta yang mengalami komplikasi
kardiovaskular yang serius seperti stroke atau serangan jantung. Relawan yang
menambah 2.000 langkah pada jadwal aktivitas harian (sekitar 20 menit berjalan
moderat) mengurangi risiko kardiovaskular sebesar delapan persen pada saat
studi berakhir. Peserta yang berjalan 4000 langkah lebih jauh per hari dari
sebelumnya mengurangi risiko sebesar 16 persen. Mereka yang menambah 10.000
langkah per hari menurunkan risiko sebanyak 40 persen. Faktor risiko tambahan
seperti berat badan, usia, kebiasaan merokok dan obat-obatan dimasukkan para
peneliti dalam perhitungan mereka.
“Temuan kami menegaskan kembali bahwa
perubahan sederhana dalam aktivitas fisik, seperti meningkatkan jumlah langkah,
menurunkan risiko stroke dan serangan jantung secara substansial, ” tegas
Yates.
Jumlah Penderita Meningkat :
Penelitian yang diterbitkan dalam The Lancet
tersebut mengatakan bahwa IGT memengaruhi sekitar 344 juta orang, atau 7,9
persen dari populasi orang dewasa di seluruh dunia. Diperkirakan jumlah
tersebut akan meningkat menjadi 472 juta (8,4 persen) pada tahun 2030.
______________________________
Referensi :
Dr Thomas Yates et al, “Association between
change in daily ambulatory activity and cardiovascular events in people with
impaired glucose tolerance (NAVIGATOR trial): a cohort analysis”, The Lancet,
20 Desember 2013.
Posted by Unknown
No comments | 05.50
Air seni atau urin Anda dapat menjadi pembawa
kabar mengenai tubuh Anda. Setiap kali Anda buang air kecil, Anda berkesempatan
untuk mempelajari kabar apa yang hendak disampaikannya. Kabar itu dapat
merupakan kabar yang ringan yaitu mengenai apakah tubuh Anda mendapatkan cukup
cairan (hidrasi) dan dapat juga kabar yang berat yaitu adanya masalah di tubuh
Anda. Air seni yang bening kekuningan sampai gelap mungkin merupakan indikasi
berapa banyak cairan yang Anda ambil dibandingkan dengan yang Anda keluarkan. Semakin
banyak minum dan semakin sedikit berkeringat maka semakin jernih air seni Anda,
dan sebaliknya. Jika air seni Anda mulai berwarna aneh maka penyebabnya mungkin
adalah faktor lain.
BENING
Jika air seni Anda benar-benar bening seperti
air hujan, Anda terlalu banyak minum. Sebagian orang minum belasan gelas air
setiap hari karena menyangka hal itu baik bagi mereka. Bagaimana pun, sesuatu
yang berlebihan tidak baik. Overhidrasi dapat meluruhkan garam-garam dalam
tubuh. Meminum obat diuretik (obat yang memaksa tubuh untuk mengeluarkan
kelebihan cairan) juga dapat membuat urin Anda berwarna jernih karena terlalu
sering dikeluarkan.
KEKUNINGAN
Urin yang normal berwarna kekuningan karena
adanya pigmen yang disebut urokrom. Air seni yang bernuansa kekuningan seperti
bensin menunjukkan bahwa Anda terhidrasi dengan baik. Bila warnanya sedikit
pekat seperti madu murni, Anda perlu lebih banyak minum.
KECOKLATAN
Jika air seni Anda berwarna kecoklatan, Anda
mungkin sangat kurang minum. Tetapi jika warnanya tetap kecoklatan meskipun
Anda cukup minum, hal itu bisa menjadi indikasi masalah di hati. Penyakit di
hati atau empedu menyebabkan sejumlah garam yang harusnya diproses dan dibuang
melalui tinja tertahan dalam darah dan akhirnya dibuang melalui urin. Penderita
penyakit hati yang berat dapat memiliki urin berwarna coklat. Air seni berwarna
gelap kecoklatan harus dites di laboratorium untuk mengonfirmasi apakah ada
masalah di hati.
KEMERAHAN
Air seni berwarna kemerahan mungkin karena
makanan atau obat yang Anda makan. Limbah pengolahan beberapa makanan dan obat
dapat dibuang melalui air seni dan menyebabkan warnanya menjadi kemerahan.
Namun, warna kemerahan juga dapat mengindikasikan adanya darah di dalam air
seni, yang berarti ada yang tidak beres dalam saluran kemih, ginjal, kandung
kemih, prostat atau uretra Anda. Masalah tersebut dapat berupa infeksi, batu di
ginjal atau kandung kemih atau kanker. Jika air seni Anda kemerahan dan juga
keruh, kemungkinan ada infeksi di sistem kemih Anda.
Selain warna, air seni juga dapat terlihat
lebih berbusa/berbuih dari biasanya. Air seni yang lebih berbusa dapat
disebabkan oleh tekanan yang lebih besar saat buang air kecil atau keberadaan
protein. Protein dalam urin bisa mengindikasikan masalah ginjal.
Air seni dapat menjadi sarana pemantauan awal
atas kondisi tubuh Anda. Bila Anda memiliki air seni yang berwarna tidak
normal, Anda perlu berbicara dengan dokter untuk segera mendapatkan analisis
urin. Jangan abaikan kabar yang disampaikan urin Anda!
Sabtu, 05 April 2014
Posted by Unknown
No comments | 05.29
Keputusan yang Anda buat hari ini mengenai kesehatan dan kebugaran dapat membantu memprediksi kesehatan Anda secara keseluruhan selama hampir 20 tahun ke depan, menurut penelitian baru dari Karlsruhe Institute of Technology di Jerman.
Penelitian jangka panjang tersebut dilakukan antara tahun 1992 dan 2010, yang melibatkan 243 perempuan dan 252 laki-laki dengan usia rata-rata 45 tahun di awal studi. Para peserta diminta menyelesaikan kuesioner dan menjalani tes medis dan kebugaran di tahun 1992, 1997, 2002 dan 2010. Untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan dan kebugaran para peserta, para peneliti menggunakan “model biopsikososial” yang terdiri dari empat tahap. Tahap pertama meliputi faktor lingkungan, seperti status sosial ekonomi dan latar belakang migrasi . Tahap kedua terdiri dari faktor personal, termasuk dukungan sosial dan strategi mengelola stres. Tahap ketiga terdiri dari faktor kebiasaan seperti merokok, latihan fisik dan pola makan. Tahap keempat meliputi kebugaran fisik dan kesehatan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa semua faktor dalam keempat tahap memiliki dampak langsung dan tidak langsung terhadap kebugaran fisik dan kesehatan peserta pada awal penelitian. Namun, hanya pola makan dan kebiasaan latihan fisik peserta yang berdampak jangka panjang pada kebugaran mereka pada akhir penelitian di tahun 2010.
Studi ini menunjukkan bahwa mengembangkan kebiasaan sehat sejak dini adalah penting untuk menjadi dewasa yang sehat dan mencegah berbagai masalah kesehatan, kata para peneliti. Mereka mengatakan akan melakukan penelitian lebih lanjut untuk lebih memahami bagaimana perilaku kesehatan dan kebugaran memengaruhi kesehatan jangka panjang.
________________________________
Referensi :
“Does initial behavior predict our physical fitness and health 18 years later?”, Alexander Woll et al., Psychology of Sport and Exercise, Januari 2014
Jumat, 04 April 2014
Posted by Unknown
No comments | 07.30
Orang
bilang bahwa kecantikan itu hanya sebatas kulit. Salah. Kecantikan ternyata
menunjukkan sesuatu yang lebih mendasar. Studi dari Finlandia menunjukkan bahwa
kecantikan merefleksikan kesehatan tubuh secara umum.
Pria
dan wanita berbeda
Studi
internasional yang dipimpin oleh ahli biologi evolusi Finlandia Markus Rantala
dari Turku University ini menunjukkan bahwa wajah memancarkan sinyal yang
berbeda pada pria dan wanita.
Pada
penelitian sebelumnya, Rantala dkk menemukan bahwa daya tarik wajah pria
berhubungan dengan seberapa kuat sistem kekebalan tubuh mereka. Ketika para
peneliti meminta wanita untuk menilai pas foto pria, mereka menemukan bahwa
semakin menarik pria dalam pandangan wanita, semakin kuat respon imun pria
untuk vaksin terhadap hepatitis B. Hal ini sejalan dengan penelitian lainnya
yang menunjukkan bahwa gen imun yang dikenal sebagai MHC lebih memberikan
perlindungan pada pria yang wajahnya dinilai menarik oleh wanita.
Penelitian
lain telah menunjukkan bahwa fitur yang dianggap maskulin seperti rahang
menonjol, alis tebal dan kumis atau jenggot lebat dikendalikan oleh testosteron
(hormon seks laki-laki). Karena kadar testosteron tinggi berhubungan dengan
sistem kekebalan tubuh yang lebih baik pada pria, maka pria maskulin tampaknya
memang lebih sehat. Ini adalah versi manusia dari apa yang disebut sebagai
prinsip handicap yang dikenalkan oleh ahli biologi Amots dan Avishag Zahavi
pada tahun 1975 untuk menjelaskan fenomena seperti ekor merak jantan yang
besar. Dengan kata lain, daya tarik wajah pria secara evolusioner terkait
dengan sistem kekebalan tubuh.
Pada
wanita, ternyata kecantikan terkait dengan hal yang berbeda. Dalam penelitian
ini Rantala mengulangi percobaan dengan vaksin hepatitis B pada wanita. Mereka
memilih vaksin hepatitis B karena hepatitis B adalah salah satu virus yang
paling umum, sehingga secara ekologis dan evolusioner relevan dengan sistem
kekebalan tubuh untuk menanggapinya.
Karena
sebagian besar orang Finlandia telah divaksinasi terhadap hepatitis B, para
peneliti melakukan studi mereka di Universitas Daugavpils di Latvia, di mana
vaksin itu kurang umum. Alasan lain adalah bahwa di Latvia para mahasiswi lebih
sedikit menggunakan pil KB, yang dapat mengubah keseimbangan hormon dan
memengaruhi penampilan penggunanya, misalnya dalam bentuk jerawat.
Penelitian
ini melibatkan 52 mahasiswi yang diambil pas fotonya. Delapan belas mahasiswa
heteroseksual kemudian menilai foto mereka pada skala dari -5 (sangat tidak
menarik) sampai +5 (sangat menarik). Ternyata, pada wanita para peneliti tidak
menemukan korelasi antara kecantikan dengan derajat respon kekebalan tubuh
mereka. Sebaliknya, mereka menemukan korelasi antara kecantikan dengan kadar
hormon stres dan persentase lemak di wajah. Semakin tinggi kadar hormon stres,
semakin kurang menarik wajah perempuan.
“Ini
sebenarnya cukup logis, karena kita tahu bahwa hormon stres menghambat hormon
seks wanita, dan jika tingkat stres sangat tinggi maka dapat membuat wanita
tidak subur,” kata Rantala.
Dengan
kata lain, kecantikan wajah seorang wanita bisa membantu pria menemukan wanita
yang kurang terpengaruh stres, dan karena ada korelasi yang kuat antara stres
dan kesuburan, sinyal stres yang tercermin di wajah secara evolutif menentukan
derajat kecantikan.
Tidak
kurus dan tidak gemuk
Studi
ini menunjukkan bahwa jika wanita ingin terlihat menarik, dia harus mencoba
untuk menjaga berat badannya normal. Terlalu banyak atau terlalu sedikit lemak
di jaringan wajah dinilai tidak menarik oleh pria dalam studi itu.
Para
peneliti percaya bahwa hal ini mungkin memberikan sinyal kesehatan yang lebih
umum yaitu bahwa terlalu kurus dan terlalu gemuk tidak sehat. Berat badan juga
berkaitan dengan kesuburan. Wanita yang terlalu kurus atau terlalu gemuk
biasanya kurang subur dibandingkan dengan mereka yang memiliki berat badan
normal .
Jadi
ini bisa menunjukkan bahwa laki-laki memilih pasangan mereka berdasarkan
kesehatan dan kesuburan, sementara wanita memilih pasangan mereka sebagian
didasarkan pada risiko jangka pendek, yaitu potensi menginfeksi dirinya dengan
penyakit, dan sebagian didasarkan pada apakah dia akan dapat memberikan
keturunan dengan sistem kekebalan yang kuat.
Para
peneliti menyadari bahwa kecantikan memang tidak terbatas pada fitur wajah yang
disebutkan dalam penelitian ini. Faktor-faktor lain seperti usia, proporsi dan
simetri tubuh, dan bau badan dapat turut berperan. “Tapi wajah merupakan salah
satu faktor yang paling penting– lebih penting daripada misalnya bentuk tubuh,”
kata Rantala.
Nah,
bila Anda ingin terlihat cantik, turunkanlah tingkat stres dan jagalah berat
badan!
_______________________________
Referensi
:
”Facial
attractiveness is related to women’s cortisol and body fat, but not with immune
responsiveness”, Biology Letters (2013), DOI: 10.1098
Posted by Unknown
No comments | 07.22
Banyak
orang menganggap bahwa bermain video game hanyalah membuang waktu sia-sia.
Ternyata tidak. Para ilmuwan menemukan bahwa menggunakan konsol game hanya
setengah jam sehari saja dapat membuat wilayah otak yang berhubungan dengan
navigasi berkembang dan mereka yang bermain teratur memiliki kemampuan yang
lebih besar untuk membangun peta mental (mental maps) dari lingkungan mereka.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa mereka yang biasa bermain video game
memiliki materi abu-abu lebih besar di otak yang digunakan untuk tujuan ini,
tetapi tidak jelas apakah ada hubungan langsung.
Penelitian
yang dilakukan oleh Max Planck Institute for Human Development di Berlin itu
menggunakan relawan-relawan tanpa pengalaman bermain game, kebanyakan dari
mereka adalah perempuan. Setengah diminta untuk bermain Super Mario 64, sebuah
permainan dengan komponen navigasi yang kuat, selama 30 menit setiap hari
selama dua bulan. Setengah lainnya tidak bermain game apapun.
Pemindaian
pada otak kelompok yang bermain game mengungkapkan materi abu-abu baru di
daerah yang terkait dengan membaca dan mengingat peta dan tes keterampilan
navigasi mereka menunjukkan mereka lebih baik dalam membuat peta mental.
Peneliti
utama Dr Simone Kühn menulis di jurnal Molecular Psychiatry: “Saya cukup yakin
bahwa apa yang kami latih di sini berorientasi pada spasial dasar. Penelitian
ini adalah yang pertama menunjukkan perubahan dalam struktur otak akibat
berlatih dengan bermain video game.”
Temuan
ini menguatkan temuan sebelumnya pada para sopir taksi di London, yang
menunjukkan adanya pertumbuhan memori otak dengan semakin banyaknya waktu yang
mereka habiskan di tempat kerja. Pengemudi taksi memerlukan waktu
bertahun-tahun untuk menciptakan peta mental yang rinci mengenai jalan-jalan di
London.
Penelitian
ini diharapkan dapat menginspirasi cara-cara baru untuk membantu dalam
memerangi kehilangan memori dan masalah orientasi yang dialami oleh penderita
demensia. Salah satu tanda pertama dari demensia adalah kecenderungan
kehilangan orientasi. Bermain video game mungkin bisa mencegah beberapa
penurunan struktur dan fungsi yang terlihat pada penyakit degeneratif ini.
______________________________________
Referensi:
“Playing
Super Mario induces structural brain plasticity: Grey matter changes resulting
from training with a commercial video game.” Kühn, S. et al, Molecular
Psychiatry, 2013; doi: 10.1038/mp.2013.120
Langganan:
Postingan (Atom)







