• Selamat datang di Media Cerdas Kesehatan - mediacerdaskes.blogspot.com

    Blog ini dibuat sebagai media dalam memenuhi tugas dan berbagi informasi terkait dunia keperawatan dan kesehatan. Anda juga dapat menemukan kami di facebook Media Cerdas Kesehatan. Info lebih lanjut, kritik dan saran silahkan hubungi admin - Email : mediacerdas.kesehatan@yahoo.com

  • Kata-Kata Bijak

    "{"Tidak usah menuntut orang lain untuk menjadi lebih baik, perhatikan dirimu sudah pantaskah menuntut orang lain" (By Satya Putra Lencana)}" Anda juga dapat menemukan kami di facebook Media Cerdas Kesehatan. Info lebih lanjut, kritik dan saran silahkan hubungi admin - Email : mediacerdas.kesehatan@yahoo.com

  • Kata-Kata Bijak

    {"Jangan pernah menyimpulkan segala sesuatu hanya dari persepsimu sendiri, tak semuanya sesuai seperti apa yang kamu fikirkan. Fikirkan berkali lipat sebelum menilai orang lain, berhenti mencari kesalahan, koreksi diri dan berubahlah, karena saat semuanya telah pergi, semuanya menjadi terlambat" (By Satya Putra Lencana)} Anda juga dapat menemukan kami di facebook Media Cerdas Kesehatan. Info lebih lanjut, kritik dan saran silahkan hubungi admin - Email : mediacerdas.kesehatan@yahoo.com

  • Kata-Kata Bijak

    {"Ada dua nikmat yang sering kali memperdayakan manusia, yaitu nikmat kesehatan dan kelapangan waktu" (H.R. BUKHARI)} Anda juga dapat menemukan kami di facebook Media Cerdas Kesehatan. Info lebih lanjut, kritik dan saran silahkan hubungi admin - Email : mediacerdas.kesehatan@yahoo.com

  • Kata-Kata Bijak

    {"Bukan yang paling kuat yang bisa bertahan hidup, bukan juga yang paling pintar. Yang paling bisa bertahan hidup adalah yang paling bisa beradaptasi dengan perubahan" (By Charles Darwin)} Anda juga dapat menemukan kami di facebook Media Cerdas Kesehatan. Info lebih lanjut, kritik dan saran silahkan hubungi admin - Email : mediacerdas.kesehatan@yahoo.com

  • Kata-Kata Bijak

    "Jika kita ingin merombak keadaan yang telah mapan, pakar manajemen Tom Peters memberikan nasihatnya, "Jangan guncang perahunya, tenggelamkan dan mulailah bangun yang baru" (By Tom Peters)} Anda juga dapat menemukan kami di facebook Media Cerdas Kesehatan. Info lebih lanjut, kritik dan saran silahkan hubungi admin - Email : mediacerdas.kesehatan@yahoo.com

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Wanita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Oktober 2014

Posted by Unknown
No comments | 16.53

Pendapat umum mengatakan bahwa pria dan wanita menanggapi stres secara berbeda. Wanita pada umumnya lebih tahan stres. Ketika menghadapi tekanan pekerjaan yang berat, problem rumah tangga yang kompleks, dan masalah-masalah lain yang menyita pikiran dan mengaduk emosi, wanita lebih bisa tetap berpikir secara jernih. Stres kronis lebih jarang pada wanita dibandingkan pada pria.

Mengapa begitu?
Jawabannya ada pada hormon seks perempuan, estrogen, yang ternyata melindungi otak mereka terhadap stres, menurut temuan para peneliti AS. “Ini bahkan bisa menjadi alasan lain mengapa wanita hidup lebih lama daripada pria,” kata kepala penelitian Profesor Zhen Yan dari Universitas Buffalo.

Tikus yang Stres
Dalam percobaan mereka, tim peneliti menyelidiki mekanisme molekul yang terkait dengan stres terhadap fungsi otak.  Untuk itu mereka secara fisik mengurung tikus-tikus muda jantan dan betina dalam kandang-kandang silinder kecil dua jam sehari selama satu minggu. Tindakan ini dimaksudkan untuk membuat stres tikus-tikus tersebut.

Untuk menguji memori jangka pendek hewan itu, para peneliti menempatkan ke dalam kandang sepasang benda yang identik, diikuti oleh pasangan benda kedua satu jam kemudian. Tikus-tikus dengan penasaran menyelidiki benda yang tidak diketahui itu secara seksama. Tiga jam kemudian, mereka menyajikan tikus-tikus itu dengan satu benda dari setiap pasangan. Tikus yang menghabiskan lebih banyak waktu memeriksa benda dari pasangan pertama menunjukkan bahwa hewan itu mengingatnya dari empat jam sebelumnya. Tikus yang lebih menyukai benda dari pasangan kedua yang lebih baru menunjukkan dia memiliki gangguan memori jangka pendek.

Melemahnya Memori
Para peneliti menguji memori hewan-hewan itu sebelum dan setelah paparan stres. Pada tikus jantan, baik sebelum maupun setelah seminggu paparan stres, kinerja memorinya sangat berbeda dibandingkan pada tikus betina. Kinerja memori tikus jantan memburuk di bawah stres, terutama memori jangka pendeknya.

Tikus-tikus jantan memeriksa benda yang telah mereka kenali seolah-olah belum pernah melihat sebelumnya. Yan menyebut bahwa stres pada tikus jantan menurunkan kadar neurotransmitter reseptor glutamat di bagian otak yang disebut korteks prefrontal, wilayah yang mengontrol perhatian, emosi, pengambilan keputusan dan kinerja memori.

Kelompok Yan menemukan bahwa tikus betina muda juga stres oleh seminggu pengekangan fisik, namun hal itu tidak menyebabkan penurunan kemampuan mereka untuk mengingat dan mengenali benda yang telah mereka lihat beberapa jam sebelumnya. Percobaan ini menemukan bahwa meskipun stres, tikus betina memiliki kadar reseptor glutamat yang sama di daerah korteks prefrontal seperti sebelum penelitian. Data ini mendukung hipotesis bahwa reseptor glutamat berperan penting dalam respon terhadap stres.

Estrogen sebagai pelindung
Rupanya, estrogen mencegah efek negatif stres pada reseptor tersebut. Tikus jantan yang diberi estrogen sintetis (estradiol) oleh peneliti bereaksi terhadap stres dengan cara yang sama dengan tikus betina. Sebaliknya, ketika peneliti memblokir efek estrogen pada tikus betina, kinerja memorinya melemah seperti tikus jantan.

Yan mengakui bahwa hasil kelompoknya memang baru berdasarkan pada studi tikus. Namun, temuan ini dapat relevan pada manusia karena banyak fungsi seluler yang sama di antara kedua spesies. “Kami percaya bahwa mekanisme ini juga terjadi pada manusia,” katanya.

Hal ini terutama berlaku pada efek estrogen sebagai peredam stres di otak, yang menguntungkan wanita. Jika perlindungan ini terganggu – misalnya, dengan penurunan produksinya selama menopause atau setelah melahirkan karena gejolak hormon – maka akan meningkatkan risiko depresi Penambahan estrogen dapat membantu untuk menstabilkan kinerja saraf.

Namun, estrogen dapat memiliki efek yang tidak diinginkan. Pada pria, kelebihan estrogen bisa menyebabkan feminisasi. Mungkin bermanfaat untuk menemukan obat yang memiliki efek serupa dengan estrogen di dalam otak tanpa menimbulkan efek sampingnya. “Ini bisa menjadi terapi yang sangat efektif untuk masalah terkait stres pada pria,” kata para peneliti.

———————–
Sumber: Zhen Yan: Estrogen protects against the detrimental effects of repeated stress on glutamatergic transmission and cognition. Molecular Psychiatry, Molecular Psychiatry, (9 July 2013)

Jumat, 04 April 2014

Posted by Unknown
No comments | 07.30
Orang bilang bahwa kecantikan itu hanya sebatas kulit. Salah. Kecantikan ternyata menunjukkan sesuatu yang lebih mendasar. Studi dari Finlandia menunjukkan bahwa kecantikan merefleksikan kesehatan tubuh secara umum.

Pria dan wanita berbeda

Studi internasional yang dipimpin oleh ahli biologi evolusi Finlandia Markus Rantala dari Turku University ini menunjukkan bahwa wajah memancarkan sinyal yang berbeda pada pria dan wanita.

Pada penelitian sebelumnya, Rantala dkk menemukan bahwa daya tarik wajah pria berhubungan dengan seberapa kuat sistem kekebalan tubuh mereka. Ketika para peneliti meminta wanita untuk menilai pas foto pria, mereka menemukan bahwa semakin menarik pria dalam pandangan wanita, semakin kuat respon imun pria untuk vaksin terhadap hepatitis B. Hal ini sejalan dengan penelitian lainnya yang menunjukkan bahwa gen imun yang dikenal sebagai MHC lebih memberikan perlindungan pada pria yang wajahnya dinilai menarik oleh wanita.

Penelitian lain telah menunjukkan bahwa fitur yang dianggap maskulin seperti rahang menonjol, alis tebal dan kumis atau jenggot lebat dikendalikan oleh testosteron (hormon seks laki-laki). Karena kadar testosteron tinggi berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh yang lebih baik pada pria, maka pria maskulin tampaknya memang lebih sehat. Ini adalah versi manusia dari apa yang disebut sebagai prinsip handicap yang dikenalkan oleh ahli biologi Amots dan Avishag Zahavi pada tahun 1975 untuk menjelaskan fenomena seperti ekor merak jantan yang besar. Dengan kata lain, daya tarik wajah pria secara evolusioner terkait dengan sistem kekebalan tubuh.

Pada wanita, ternyata kecantikan terkait dengan hal yang berbeda. Dalam penelitian ini Rantala mengulangi percobaan dengan vaksin hepatitis B pada wanita. Mereka memilih vaksin hepatitis B karena hepatitis B adalah salah satu virus yang paling umum, sehingga secara ekologis dan evolusioner relevan dengan sistem kekebalan tubuh untuk menanggapinya.

Karena sebagian besar orang Finlandia telah divaksinasi terhadap hepatitis B, para peneliti melakukan studi mereka di Universitas Daugavpils di Latvia, di mana vaksin itu kurang umum. Alasan lain adalah bahwa di Latvia para mahasiswi lebih sedikit menggunakan pil KB, yang dapat mengubah keseimbangan hormon dan memengaruhi penampilan penggunanya, misalnya dalam bentuk jerawat.

Penelitian ini melibatkan 52 mahasiswi yang diambil pas fotonya. Delapan belas mahasiswa heteroseksual kemudian menilai foto mereka pada skala dari -5 (sangat tidak menarik) sampai +5 (sangat menarik). Ternyata, pada wanita para peneliti tidak menemukan korelasi antara kecantikan dengan derajat respon kekebalan tubuh mereka. Sebaliknya, mereka menemukan korelasi antara kecantikan dengan kadar hormon stres dan persentase lemak di wajah. Semakin tinggi kadar hormon stres, semakin kurang menarik wajah perempuan.

“Ini sebenarnya cukup logis, karena kita tahu bahwa hormon stres menghambat hormon seks wanita, dan jika tingkat stres sangat tinggi maka dapat membuat wanita tidak subur,” kata Rantala.

Dengan kata lain, kecantikan wajah seorang wanita bisa membantu pria menemukan wanita yang kurang terpengaruh stres, dan karena ada korelasi yang kuat antara stres dan kesuburan, sinyal stres yang tercermin di wajah secara evolutif menentukan derajat kecantikan.

Tidak kurus dan tidak gemuk

Studi ini menunjukkan bahwa jika wanita ingin terlihat menarik, dia harus mencoba untuk menjaga berat badannya normal. Terlalu banyak atau terlalu sedikit lemak di jaringan wajah dinilai tidak menarik oleh pria dalam studi itu.

Para peneliti percaya bahwa hal ini mungkin memberikan sinyal kesehatan yang lebih umum yaitu bahwa terlalu kurus dan terlalu gemuk tidak sehat. Berat badan juga berkaitan dengan kesuburan. Wanita yang terlalu kurus atau terlalu gemuk biasanya kurang subur dibandingkan dengan mereka yang memiliki berat badan normal .

Jadi ini bisa menunjukkan bahwa laki-laki memilih pasangan mereka berdasarkan kesehatan dan kesuburan, sementara wanita memilih pasangan mereka sebagian didasarkan pada risiko jangka pendek, yaitu potensi menginfeksi dirinya dengan penyakit, dan sebagian didasarkan pada apakah dia akan dapat memberikan keturunan dengan sistem kekebalan yang kuat.

Para peneliti menyadari bahwa kecantikan memang tidak terbatas pada fitur wajah yang disebutkan dalam penelitian ini. Faktor-faktor lain seperti usia, proporsi dan simetri tubuh, dan bau badan dapat turut berperan. “Tapi wajah merupakan salah satu faktor yang paling penting– lebih penting daripada misalnya bentuk tubuh,” kata Rantala.

Nah, bila Anda ingin terlihat cantik, turunkanlah tingkat stres dan jagalah berat badan!

_______________________________
Referensi :

”Facial attractiveness is related to women’s cortisol and body fat, but not with immune responsiveness”, Biology Letters (2013), DOI: 10.1098